Minggu, 15 Juni 2008

Summer di Indonesia

Rasanya aneh ya mendengar kalimat di judul itu..apa coba maksudnya? Kata-kata itu sepertinya belakangan ini (atau udah dari dulu, cuma gw aja yang kurang bergaul..) sering banget gw denger, rada prihatin juga sih liatnya. Bukan kenapa-kenapa sih, cuma kayanya kok setiap gw liat atau denger kata “summer” dari mulut orang Indonesia gw jadi menghela napas panjang dan mengelus dada. Dan belakangan ini semakin sering gw melihat dan merasakan hal itu, coba liat spanduk film “summer brezze” yang dibintangi si kembar Chandrawinata, terus coba kita denger rap-nya lagu “pandangan pertama” dari trio RAN, atau lihat deh pengumuman ini (gw dapet dari salah satu milist). Coba bayangin gimana gak miris..?


Seorang teman bertanya “..emang apa sih masalahnya..?”, nih masalahnya gw kasih tau... Indonesia dikenal sebagai negara Tropis (kayanya semua orang juga udah tau ya) dimana iklim di Indonesia hanya memungkinkan 2 jenis musim yaitu wet season (biasa dikenal dengan musim hujan) dan dry season (yang biasa dikenal musim kemarau). Nah terus kalo orang Indonesia, tinggal di Indonesia, makan, minum, tidur, cari duit, dan ber*k di Indonesia kok bisa-bisanya menggunakan istilah summer. Emang apaan sih summer ..?orang Indonesia gak mungkin ngerasaain summer, lah wong kita hampir sepanjang tahun gak tau dan gak ngerasain yang namanya summer. Yah gw sih gak masalah kalo emang ada sebagian orang yang mau norak, tapi ya jengah aja ngeliat dan dengernya. Gimana gak jengah kalo yang sering ngomong kaya gitu ternyata artis dan orang-orang ternama di Indonesia. 


Tulisan ini sebenernya gak mau untuk membicarakan mengenai apakah orang yang menggunakan kata-kata summer itu tidak nasionalis atau sok kebarat-baratan. Tapi gw cuma mau mengungkapkan perasaan gw, bahwa summer di Indonesia itu gak ada dan gak mungkin. Selain itu yang paling penting adalah orang yang menganggap di Indonesia ada summer perlu belajar lebih giat lagi..karena dari situ terlihat kebodohan yang paling mendasar. Jadi walaupun orang yang menulis itu adalah orang yang sekolah tinggi, tapi sepertinya gak berpengaruh pada pola pikirnya yang menurut gw guobblloookkk..

Rabu, 21 Mei 2008

Bisa...Tidak...Bisa...Tidak...jadi gimana donk..?, Bisa apa Tidak..?

"...Indonesia..BISA...Indonesia...BISA..."


Yell-Yell tersebut terdengar sebagai penutup dari pidato SBY di Istora Senayan pada tanggal 20 Mei 2008 yang lalu, sebagai puncak seremonial perayaan 100 tahun kebangkitan nasional. Jauh hari sebelumnya juga sudah dilakukan "promosi" besar-besaran mengenai hari kebangkitan nasional yang ke 100 tersebut. Bisa kita lihat acara-acara di Televisi yang tiba-tiba serentak menayangkan acara yang bernafaskan "nasionalisme", bikers melakukan konvoy besar-besaran dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional, atau bahasa bulenya "National Awakening Day"..(what the  f*ck is that supposed to mean..). Ayo kita kembali lagi kepada Yel-yel yang dikumandangkan presiden kita (“Presiden kitaaaa..?” Presiden lu kaleee. gw sih gak milih..yeeee...), "Indonesia"..kemudian diikuti.."BISA", pertanyaannya adalah bisa apa..?bisa bangkrut, bisa miskin, bisa bubar, bisa mati, semua juga bisa. Sepertinya SBY mau mencontoh taglinenya Obama "Yes We Can..". Tapi semuanya rada salah kaprah dan gak genah jadinya. 


Jujur gak ngerti gw ngeliat negara ini dan para aktor-aktor elite-nya. Sangat aneh dan terkadang menjadi bingung sendiri, sebenernya yang bego gw atau mereka ya..? Sepertinya kebangkitan nasional yang sudah 100 tahun itu hanya dipenuhi dengana simbol-simbol yang sangat tidak penting. Ditambah lagi “rasa” nasionalisme dadakan yang ditunjukan hampir seluruh media massa mainstream di Indonesia. Coba kita lihat televisi dua hari sebelum tanggal 20 Mei, seringkali tiba-tiba acara televisi bertemakan nasionalisme. Walaupun pemahaman nasionalisme yang dipakai oleh stasiun TV tersebut masih sangat minim dan lebih mengendepankan simbol-simbol semata. Mungkin sebagian dari kita melihat acara Trans TV “John Pantau”, khususnya edisi kebangkitan nasional. Kalo ada yang gak liat, sedikit gw deskripsikan deh..jadi pada acara itu si John (pembawa acaranya) menanyakan warga masyarakat mengenai pengetahuan tentang Pancasila (termasuk lambang-lambangnya) dan juga tentang beberapa pertanyaan mengenai sejarah. Banyak dari warga masyarakat yang tidak bisa menjawab dengan baik pertanyaan si John itu. Settingan acara tersebut terkesan mengarahkan pemirsanya untuk memiliki anggapan bahwa ketika seseorang tidak dapat menjawab pertanyaan dari John, maka orang tersebut tidak punya jiwa ‘Nasionalisme” yang cukup. Nah pertanyaan yang muncul di kepala gw, kenapa sih “Nasionalisme” hanya didasarkan pada pengetahuan mengenai lambang-lambang di dada Garuda Pancasila..? Atau didasarkan hanya pada pengetahuan sejarah Indonesia..?


Yuk kita lihat sejenak definisi nasionalisme menurut  new oxford american dictionary yang mengartikan nasionalisme sebagai..“nationalism |ˈna sh ənəˌlizəm|, noun - patriotic feeling, principles, or efforts.” Kalau kita lihat dalam definisi itu, ternyata nasionalisme punya sisi yang lebih luas kan daripada sekedar pengetahuan tentang sejarah ataupun simbol  suatu negara. Gw memberikan penekanan kepada efforts dalam definisi nasionalisme tersebut. Karena hal itu bisa diartikan sangat luas. Artinya nasionalisme mencakup dari upaya yang kita lakukan untuk memiliki visi dan misi untuk negara kita. Kalau hanya sekedar tahu tentang sejarah atau simbol negara, mmmhhh jadi sempit sekali ya makna dari nasionalis. Kenapa Bung Karno pantas diberikan gelar seorang “Nasionalis”..? Karena dia punya visi dan misi untuk Indonesia, dan hal itu bukan sekedar disimpan olehnya sebagai wacana tapi dia praktekan. Terlepas dari kontroversi yang selalu membayangi Bung Karno, tapi dia jelas punya visi dan misinya terhadap Indonesia. Coba kita lihat Dowes Decker atau juga dikenal sebagai Multatuli, dia jelas bukan orang Indonesia..dia mungkin gak pernah pake blangkon..dan sangat mungkin dia gak begitu paham dengan simbol-simbol kenegaraan. Tapi kembali lagi dia punya upaya yang tercermin dari visi dan misinya bagi Indonesia. Atas dasar itulah menurut gw dia juga pantas untuk disebut sebagai seorang nasionals. Karena menurut gw seorang nasionalis harus memiliki visi dan misi kebangsaan. Jadi akan sangat percuma apabila seseorang faham tentang sejarah atau mungkin butir-butir Pancasila (jadi inget jaman P4..he..he..) tapi dia tidak memiliki visi dan misi kebangsaan, dan yang dipikirkan hanya perutnya sendiri.


Nah seabad kebangkitan nasional, masih juga diwarnai dengan kebanggan atas simbol-simbol kenegaraan. Coba kita lihat beberapa wawancara para artis atau bahkan wawancara beberapa pejabat di TV, rata-rata jawaban mereka sama ketika menanggapi pertanyaan tentang “nasionalisme”. “..ya saya mencoba untuk memiliki jiwa nasionalisme dengan pake produk Indonesia..”, atau “..saya hafal pancasila kok..”. Nah jawaban semacam itu yang paling umum dan sering kita dengar ketika seorang pejabat atau artis ditanyakan mengenai nasionalisme. Tapi ketika ditanyakan mengenai bagaimana visi mereka untuk Indonesia, mereka umumnya akan menjawab “..Ya saya berharap yang terbaik saja untuk Indonesia..” atau yang ekstreem mereka akan menjawab “..kalau harga BBM naik adalah yang terbaik untuk Indonesia ya, saya setuju-setuju saja..”. Mmmhhh...menurut gw gak ada sikap nasionalis dari jawaban semacam itu. 


Ya, tapi emang gak bisa disalahkan juga, bayangkan saja..selama hampir 30 tahun lebih masyarakat Indonesia dijejali simbol-simbol kenegaraan sebagai kriteria untuk menjadi seorang nasionalis. Jadi reformasi selama 10 tahun jelas belum bisa menghapus budaya itu semua. Tapi yang gw kecewa adalah, kok ya masih aja pertanyaan semacam itu masih sering keluar dari media-media besar. Jadi sudah dibodohi lebih dari 30 tahun, dan ketika rejim pembodohan jatuh..masih juga tetap dibodohi media..wah emang Indonesia sepertinya masih belum bisa keluar dari skema “pembodohan”. Nah kalau kita kembali lagi ke pernyataan pak SBY yang selalu menyatakan, “..Kita Bisa..” gw akan bertanya, bagaimana mau “bisa” kalau negara ini masih saja menyulitkan warganya dengan kenaikan harga BBM dan diikuti dengan kenaikan harga sembako. Bagaimana mau “bisa” kalau ternyata para elite masih saja tidak berpikiran sempit. Bagaimana mau “bisa” kalau pemimpinnya tidak mau berkorban demi rakyatnya. Gw baru aja ngobrol sama nenek gw yang udah rada pikun tentang kenaikan BBM..tau gak dia jawab apa, “..SBY tuh goblok..kenapa dia gak motong gajinya dan gaji para menterinya sebelum dia menaikan harga..?”, jujur spontan gw kaget seorang nenek-nenek yang udah rada pikun aja masih punya pemikiran yang bisa dibilang rada sehat dibandingkan dengan pejabat negara ini. Kacauuuu..bener-bener kacauuu..


Tulisan ini gak bermaksud untuk menilai tingkat nasionalisme seseorang, ataupun mencoba untuk mengatakan bahwa nasionalisme di Indonesia sudah sangat rendah. Tulisan ini adalah cerminan dari isi kepala gw yang sangat mumet melihat kenaehan demi keanehan yang dilakukan oleh “aktor-aktor” negara ini. Silahkan deh yang punya kesempatan baca tulisan ini menentukan apa sih maksud tulisan yang “gak bermutu” ini..he..he..

Selasa, 26 Februari 2008

Dalam kesibukan-pun ada "Dia..."

Hampir dapat dipastikan semua dari kita pernah merasakan suatu kesibukan yang luarrrr biasaaa pada suatu waktu dalam kehidupan kita. Walaupun pengangguran, kita juga pasti pernah merasakan sibuk, paling tidak ketika kita lapar dan gak punya uang. Pasti sibuk cari duit untuk makan. Hari ini buat saya terasa sibuk sekali, satu hal belum selesai sudah datang hal yang lain..(loh tapi kok masih sempet-sempetnya nulis Blog..). Seakan-akan kok ini kerjaan gak selesai-selesai (ya jelas aja gak selesai, kan ditinggal untuk nulis blog..). 


Tapi seperti judul posting ini, dalam kesibukan-pun ada "Dia..", itu yang saya rasakan saat ini. Kesibukan luarrrr biassaaa sekalipun tidak ketinggalan selalu teringat "Dia..". “Duilah.. siapa sih jo, sebegitu spesialnya sampe teringat terus..?”, tanya teman sekantor saya. Untuk mendeskripsikannya saya  juga bingung, jujur aja. Yang saya tahu "Dia.." selalu ada di hati saya, dan selalu membayang di keseharian saya. Terasa betul kehadiran "Dia.." dalam setiap langkah saya. Dalam kesibukan ini, ada saja saat dimana tiba-tiba "Dia.." muncul dan seakan-akan memerintahkan badan ini untuk berhenti sejenak dan memikirkan "Dia..".

Saya coba untuk lawan perasaan itu, suapaya saya bisa serius kerja dan lebih cepat menyelesaikan pekerjaan, malah tidak bisa. Ada apa sih ini sebenarnya..?rasanya sih kaya jatuh cinta, apa iya ini jatuh cinta namanya..?Kalau iya, benar-benar luarrrr biasaaa rasanya..seperti adrenalin yang setiap detiknya terpompa karena perasaan ini. Tadinya saya pikir perasaan ini bisa hilang ketika saya tenggelam dalam kesibukan, mmmhhh...ternyata saya salah besar. Perasaan ini semakin menjadi-jadi. Bayangan "Dia.." semakin terus membayangi saya. Tapi pada titik itu saya sadar betul bahwa ketika perasaan seperti itu telah merasuk, tidak akan mampu kekuatan apapun yang ada di dunia ini bisa melawannya.

"don't fight it, just move with the flow..". ternyata itu kuncinya, semakin asik saya dengan "Dia.." dan perasaan ini.pun semakin membawa saya ke suatu perasaan yang lain dari pada yang lain. “..iya..iya..lu lagi jatuh cinta kan..?siapa sih orangnya..?anak mana..?", kembali teman saya bertanya. Entah harus darimana memulainya, saya pun bingung harus mengatakan apa. Memang sedikit “absurd” juga perasaan saya ini. Tidak jelas siapa orangnya yang saya “fall in to.."tapi yang jelas perasaan itu ada dan tumbuh setiap waktu. Perasaan ini mungkin bagi sebagian orang dianggap "cinta", "love", atau "amor" (mohon maaf kalo bahasa tegalnya salah). Tapi yang saya rasakan lebih dari itu. Ya saya pernah jatuh cinta, apa rasanya saya tahu. Mirip dengan yang sekarang saya rasakan, tapi ada perbedaan yang mendasar juga.

Kalau sekedar jatuh cinta, tidak seperti begini saya. Sampai rela menuliskan blog dan meluangkan waktu saya dan mengorbankan beberapa pekerjaan saya yang masih menumpuk. Ini lebih dari sekedar cinta, ini seperti berasa seperti menyelam dilautan dan mengikuti arus bawah laut yang membawa saya kesana dan kesini. Nikmat rasanya..tapi sekaligus memompa adrenalin. Serasa menyatu dengan sekeliling kita di lautan yang luas itu.

Yah biarlah perasaan ini ada, dan saya berharap semoga perasaan ini selalu ada di hati saya..semakin besar..semakin hari..semakin .....

Senin, 25 Februari 2008

"Pertama"

Waduh gemetar juga jari tangan ini..mengetik untuk pertama kalinya di suatu "blog", karena kabar-kabarnya nulis di "blog" itu bisa dilihat semua orang di seluruh penjuru dunia. Jadi kalau sampai tulisan saya ini norak atau kurang berkenan, wah jadi gak asik juga kan. Tapi, ya semua juga ada pertama kalinya, kalo orang bule bilang "there always be the first time for everything..".

Sebagian besar pengguna internet, atau bahkan mungkin bisa dikatakan semua pengguna internet sudah mengetahui keberadaan "blog". Tapi gak semua pernah mencoba menulis dan membuat sebuah "blog", termasuk disini saya..he..he..(cukup katrok juga untuk ukuran manusia era millenium). Jadi inilah, kali pertama saya menuliskan sesuatu di "blog", yang baru saja saya buat. Apa yang akan saya tulis juga sebetulnya nggak jelas sama sekali. Ya, harap maklum lah..bagi siapapun yang membaca tulisan ini..namanya juga anak baru di dunia "blog", atau (New Kid on The "blog)..he..he..

"..kalau emang gak tau mau nulis apa, ngapain juga buat blog..?" itu mungkin satu dari beberapa pertanyaan yang muncul dari orang yang membaca tulisan ini. Ya jangan tanya ke saya..he..he..saya juga gak tau ngapain saya buat "blog". Tapi kalu dipikir-pikir memang sepertinya asik juga punya blog. Bisa jadi media alternatif untuk mengungkapkan perasaan, tanpa prasayarat macem-macem. Kalau tulisan di Jurnal ilmiah, harus pake footnote lah, ini lah, itu lah..dan berbagai macam prasayarat lainnya. Tapi kalau di "blog" sepertinya orang bisa nulis sesuka hatinya, bahkan sampai yang paling extreme sekalipun. Paling ya tinggal tunggu komentar dari orang-orang yang membaca tulisannya saja. Tapi biarlah komentar menggonggong..kafilah berlalu..itu kalau kata pribahasa. Kan Demokrasi..ya gak? Jadi jawaban saya untuk pertanyaan tadi, saya membuat "blog" untuk numpahin isi kepala saya.

Karena saya seorang pemimpi dan penghayal, jadi ya uneg-uneg saya biasanya tentang khayalan saya atau bahkan keseharian saya yang isinya mimpi. Atau bisa juga berisi tentang apapun yang mau saya tulis. Siapa yang tahu tulisan saya bisa menjadi inspirasi buat orang lain (semoga saja..he..he..).